Sidoarjo – Media Indonesia Times | Heri, seorang pecinta dan pencari perkutut katuranggan asli lokal berusia 45 tahun yang berasal dari Menanggal, Surabaya, telah menjadikan hobi ini sebagai mata pencaharian yang tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi juga memberikan kenyamanan dan keberlanjutan bagi anak dan isterinya.
Dalam kesempatan yang sama, Heri memadukan kecintaannya pada burung perkutut dengan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga, menjadikan pekerjaannya ini sangat berarti baginya.
Dalam upayanya menemukan perkutut, Heri mengalami berbagai rintangan yang kerap kali menguji ketahanan mental dan fisiknya. Mulai dari dihadang oleh orang-orang yang tidak menyukai keberadaannya, teriakan mendiskreditkan yang menyebutnya maling, hingga pengalaman mistis ketika ia berhadapan dengan makhluk halus di malam yang sunyi.
Pengalaman-pengalaman ini, meskipun menakutkan, justru semakin memperkukuh niat dan keinginannya untuk terus mencintai dan mencari perkutut lokal dengan cara menyuluh, yang merupakan metode tradisional dalam mengumpulkan serta membudidayakan burung ini.
Dengan penuh tekad dan semangat yang tak padam, Heri Riski telah berhasil menghasilkan ratusan burung perkutut katuranggan, masing-masing dengan keunikan dan karakteristik tersendiri, seperti Kantong Semar, Rondo Semoyo, Sodoh Lanang, Rajekwesi, Banyu Mili, Blorok Sono, Blorok Kethek, Udan Mas, Lurah, Putih Lokal, Rojo Wono, dan berbagai jenis lainnya.
Setiap jenis burung mengandung nilai dan ikonografi budaya yang mendalam, mencerminkan kearifan lokal dan tradisi yang telah ada sejak lama.
Dengan bertahun-tahun pengalaman dalam menyuluh perkutut, Heri tidak hanya berfokus pada penjualan, tetapi juga berperan sebagai seorang pendidik. Ia merasa penting untuk memberikan edukasi tentang burung perkutut katuranggan yang asli, sehingga pembeli tidak hanya mendapatkan burung berkualitas, tetapi juga wawasan dan pengetahuan yang berharga tentang ciri ciri dan nama nama perkutut katuranggan asli lokal yang benar.
Hal ini menciptakan suatu ekosistem di mana para pembeli dapat bertukar pengalaman dan pengetahuan tentang peliharaan mereka, menyatukan komunitas pecinta perkutut lokal yang semakin berkembang.
“Namun, meskipun begitu, tidak jarang saya juga mengalami tipu daya dari sebagian pembeli yang tidak menyelesaikan pembayaran melalui transfer sesuai kesepakatan awal saat melihat burung yang mereka inginkan,” tuturnya dengan nada yang penuh rasa prihatin, menunjukkan sisi lain dari dunia jual beli burung yang seringkali diwarnai oleh ketidakjujuran.
Meskipun tantangan ini ada, Heri tetap bertahan, mempercayai bahwa kejujuran dan integritas adalah landasan kuat dalam bisnis yang dia jalani.
Belakangan ini, dengan hadirnya media sosial, terutama aplikasi Tik Tok, telah memberikan angin segar bagi Heri dalam memasarkan burungnya. Menciptakan konten-konten menarik di platform tersebut tidak hanya membantu dalam menjual, tetapi juga memberikan hiburan saat ia menyuluh di malam hari.
Dengan username Tik Tok ‘Riski Rezeki’, ia telah mengumpulkan ratusan pengikut dari berbagai wilayah di Indonesia, menunjukkan adanya minat yang tinggi terhadap burung perkutut dan budaya lokal yang menyertainya. (Bagas)