Pangkalan Bun, -Media Indonesia Times| Bimbingan teknis (bimtek) dan penelitian ular piton (malayopython reticulatus) dan biawak air tawar (varanus salvator) di tempat penampungan pengedaran dalam/luar negeri CV Mufakat, Desa Pasir Panjang, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Acara berlangsung selama tiga hari, dimulai pada Selasa (12/8/2025).
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari BRIN, Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang diikuti oleh perwakilan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, serta akademisi dari Universitas Palangka Raya (UPR).
Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk membekali peserta dengan kemampuan teknis dalam pengambilan data dan monitoring perdagangan satwa, khususnya ular piton dan biawak air tawar, di wilayah masing-masing.
Peneliti Herpetofauna dari Pusat Riset Biosistemika dan Evolusi BRIN, Awal Riyanto, menjelaskan bahwa kegiatan ini sangat penting dalam mendukung perdagangan satwa yang berkelanjutan.
“Kita sedang melakukan bimbingan teknis pengambilan data untuk monitoring perdagangan ular piton dan biawak air tawar. Data yang dikumpulkan, terutama terkait reproduksi, akan digunakan untuk menyusun strategi pengelolaan. Misalnya, kapan waktu panen dihentikan, atau menentukan ukuran minimum satwa yang boleh dipanen,” jelas Awal Riyanto.
Menurutnya, strategi ini penting agar populasi satwa tetap lestari dan tidak terancam punah. Jika keberlangsungan satwa terjamin, maka aktivitas ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor ini pun bisa tetap berjalan dengan baik.
“Kita juga sedang meneliti kematangan reproduksi jantan dan betina, termasuk melihat ukuran oviduk. Semua data ini akan jadi dasar kebijakan pengelolaan yang lebih baik,” tambahnya.
Sebagai tuan rumah kegiatan, Direktur CV Mufakat, Supardi, menyambut baik pelaksanaan bimtek di tempat mereka. Menurutnya, kegiatan ini menjadi kesempatan penting bagi para pelaku usaha reptil di Kalimantan.
“Ini kebetulan untuk eksportir reptil, antara lain CV Muplfakat dan PT Pasir Panjang Perkasa. Karena ada bimtek di Kalimantan Tengah yang mencakup Kalimantan Selatan, Barat, dan Timur, kegiatan ini mendapat dukungan dari Kementerian Kehutanan, dan dilaksanakan di tempat kami,” ujar Supardi.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini berperan dalam mendukung kelancaran ekspor reptil, khususnya untuk memenuhi kuota ekspor tahun ini.
“Kami juga melakukan pemotongan tambahan untuk mencukupi kekurangan kuota ekspor sebesar 2,5 persen, agar target ekspor tahun 2025 bisa tercapai,” pungkasnya.
Dengan pelatihan ini, diharapkan peserta dapat menerapkan ilmu yang didapat untuk mendukung konservasi sekaligus kesejahteraan masyarakat melalui praktik perdagangan satwa yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.(*han)