Banyuwangi – Media Indonesia Times| Organisasi Serbu Tambang Wangi (STW) menanggapi maraknya pemberitaan terkait aktivitas pertambangan di Banyuwangi, termasuk di Desa Bedewang, Kecamatan Songgon. Serbu Tambang Wangi menilai, banyak pemberitaan selama ini hanya menyoroti sisi negatif penambangan tanpa menimbang azas kemanfaatannya terhadap pembangunan dan kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Ketua Serbu Tambang Wangi, M. Vahid Faiq, menyampaikan kepada awak media, bahwa sektor pertambangan di Banyuwangi sejak lama telah memberikan kontribusi , baik dalam menyerap tenaga kerja maupun dalam mendukung perputaran ekonomi masyarakat.
“Bukan hanya di Bedewang, tapi hampir semua pemberitaan tentang tambang di Banyuwangi cenderung menyudutkan penambang. Padahal banyak warga yang menggantungkan hidupnya dari sektor ini. Jangan lupa, tambang juga menyerap tenaga kerja, mendukung pembangunan, dan ikut menghidupi masyarakat,” tegas M. Vahid Faiq, Kamis (28/08).
Menurutnya, sudah banyak penambang di Banyuwangi yang berusaha beretika baik, mengurus izin resmi, serta menjaga hubungan dengan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, pemberitaan seharusnya lebih berimbang, tidak hanya menyoroti dampak lingkungan, melainkan juga kontribusi positifnya.
“Kami tidak menutup mata terhadap persoalan lingkungan. Namun mari kita bicara solusi, bukan sekadar menyalahkan. Azas manfaat harus jadi pijakan. Jika dikelola dengan baik, tambang bisa menjadi mitra pembangunan, bukan ancaman,” tambahnya.
Selain itu, Serbu Tambang Wangi mendorong agar semua pihak pemerintah daerah, aparat penegak hukum, masyarakat, dan pelaku tambang bersinergi membangun iklim pertambangan yang sehat. Dengan begitu, kepentingan lingkungan tetap terjaga, lahan pertanian tidak terabaikan, sekaligus ekonomi masyarakat tetap hidup.
Lebih lanjut Melalui pernyataan ini, Serbu Tambang Wangi menegaskan bahwa publik perlu melihat pertambangan secara utuh, sebagai sektor yang tidak hanya memberi dampak, tetapi juga memberi manfaat besar bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Banyuwangi.
Sumber: M.Vahid Faiq.
Redaksi MIT.