Surabaya — Media Indonesia Times | Di kota yang namanya terpatri dalam sejarah sebagai lumbung keberanian, suara perlawanan akan kembali menggema. Surabaya, Kota Pahlawan, akan menjadi saksi sebuah gelombang moral yang mengalir deras, mewarnai peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (HAKORDIA) 2025 dengan energi yang melampaui batas wajar sebuah acara publik. Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Jawa Timur akan tampil dengan cara yang tidak biasa, berani, terbuka, dan menggugah.
Sebuah trailer raksasa sepanjang 40 kaki berdiri megah sebagai panggung orasi akbar berkonsep Publik Entertainment. Dari kejauhan, panggung itu akan tampak seperti monumen baru perlawanan, tempat suara rakyat menemukan wadahnya, tempat kebenaran bergema lebih keras daripada kesunyian yang sering menyelimuti isu korupsi. Dan tepat di depannya, 1.200 anggota MAKI se-Jawa Timur akan hadir, memenuhi ruang publik dengan lautan semangat yang seakan mengguncang fondasi Surabaya.
Massa akan datang bagai gelombang tanpa henti. Dari anak muda, akademisi, aktivis, hingga masyarakat umum yang telah muak dengan korupsi yang merusak tatanan hidup. Di tangan mereka, spanduk-spanduk berkibar dengan pesan tegas. Di mata mereka, tampak keteguhan luar biasa. Di dada mereka, berkobar satu keyakinan: korupsi bukan sekadar kejahatan finansial, melainkan pengkhianatan terhadap masa depan.
Acara ini akan melampaui klaim sebagai peringatan. Ia berubah menjadi sebuah panggilan jiwa sebuah ruang untuk menata ulang kesadaran kolektif bangsa. Dengan memadukan orasi, edukasi, dan hiburan yang dirancang apik, MAKI Jatim akan berhasil menghidupkan atmosfer yang tidak hanya memancing emosi, tetapi juga memaksa publik untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah kita akan diam sementara korupsi terus mencuri harapan?
Dan ketika suasananya mencapai titik kulminasi, panggung bergemuruh oleh satu kalimat yang menusuk langsung ke jantung nurani:
“Gak Wayahe Mikir Korupsi, Wayahe Golek Sangu Mati.”
Seruan ini bukan hanya slogan, melainkan tamparan batin bagi siapa pun yang mendengarnya. Kalimat itu menyayat, meruntuhkan dalih-dalih pembenaran, sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai dasar kehidupan: bahwa manusia seharusnya menimbun kebaikan, bukan dosa; memperjuangkan integritas, bukan menumpuk harta haram untuk dunia yang fana. Seruan itu meluas, menabrak dinding-dinding kota, lalu meluncur ke langit Surabaya seakan memanggil para pahlawan untuk menyaksikan bahwa bangsa ini belum menyerah.
Banyak yang terdiam, menunduk, atau mengepalkan tangan dengan mata berkaca-kaca. Ada yang marah, ada yang terharu, dan ada pula yang merasa tersentak. Tapi satu hal pasti: tidak ada yang tetap sama setelah mendengar kalimat itu. Kesadaran kolektif seolah terbangun kembali, menegaskan bahwa perjuangan memberantas korupsi adalah perjuangan yang harus dihidupkan setiap hari.
Heru Satriyo, Ketua MAKI Jatim menuturkan bahwa HAKORDIA 2025 di Surabaya akan menjadi bukti bahwa api perlawanan itu masih menyala. Bahwa masyarakat, terutama MAKI Jatim, tidak akan berhenti bersuara meski jalan panjang masih menanti. Di kota tempat para pahlawan dimakamkan, semangat kami seolah hidup kembali di dalam dada para aktivis yang berdiri tegak di tengah kerumunan.
“Dan saatnya nanti ketika orasi penutup dikumandangkan, suasana terasa lebih pekat, pekat oleh harapan, tekad, dan keyakinan. Kata-kata yang meluncur menegaskan sebuah prinsip yang tidak bisa ditawar: Menolak korupsi bukan sekadar sikap. Itu adalah kewajiban moral yang menentukan arah bangsa, arah masa depan anak-anak negeri ini,” tuturnya.
Heru MAKI juga menegaskan. “Dan pada hari itu nanti di bawah langit Surabaya yang memerah senja, 1.200 aktivis berdiri sebagai saksi bahwa perjuangan belum berakhir. Mereka pulang tidak hanya membawa semangat, tetapi juga janji: bahwa selama kejujuran masih dijaga, masa depan Indonesia tidak akan gelap, dan MAKI Jatim Tak Akan Lelah Mengejar Matahari,” tegasnya. (Bagas)